Jumat, 27 Agustus 2010

Askep Pada Pasien Partus Maturus Dengan Eisiotomi

Karya tulis ini dilatarbelakangi oleh tingginya angka kematian ibu di Jawa Barat pada tahun 2007 mencapai 334 kematian per 100.000 kelahiran, angka kematian bayi mencapai 20 jiwa/1000 kelahiran dan tingginya angka kejadian Partus Maturus Spontan Dengan Episiotomi di RSUD Majalaya periode bulan Januari – Oktober 2009 yang menempati urutan kedua yaitu 221 orang (34,60%) serta dampak pada KDM yaitu: perdarahan, konstipasi, nyeri saat BAK karena trauma kandung kemih serta masalah keperawatan yaitu: gangguan rasa nyaman nyeri, resiko tinggi perdarahan berlebihan, resiko tinggi infeksi, resiko tinggi ketidakefektifan menyusui, resiko tinggi terjadinya konstipasi, kurang pengetahuan tentang perawatan diri, resiko tinggi retensio urine, dan resiko tinggi terlambatnya involusi. Tujuan penulisan dapat melakukan pengkajian sampai dengan evaluasi serta menganalisa kesenjangan teori dengan kenyataan pada kasus Ny. A. Teknik pengumpulan data berupa: wawancara, observasi, pemeriksaan fisik, studi dokumentasi dan kepustakaan. Sistematika penulisan dengan empat bab. Post partum adalah jangka waktu 6 minggu yang mulai setelah kelahiran bayi sampai pemulihan kembali oragan-organ reproduksi seperti sebelum kehamilan. Episiotomi adalah insisi perineum yang dimulai dari cincin vulva ke bawah, menghindari anus dan muskulus spingter serta memotong fasia pervis, muskulus konstrikter vagina, muskulus transversus perinei. Diagnosa keperawatan yang mungkin muncul pada ibu Post Partum Maturus Spontan: gangguan rasa nyaman nyeri, resiko tinggi ketidakefektipan menyusui, resiko tinggi cedera, resiko tinggi infeksi, perubahan eliminasi urine, resiko tinggi kekurangan volume cairan, resiko tinggi kelebihan volume cairan, konstipasi, resiko tinggi perubahan peran menjadi orang tua, resiko tinggi koping individu tidak efektif, gangguan pola tidur, kurang pengetahuan tentang perawatan diri dan perawatan bayi. Perencanaan yang dapat dilakukan untuk mengatasi nyeri: tentukan lokasi dan sifat ketidaknyamanan, berikan kompres panas lembab, inspeksi: hemoroid pada perineum, payudara dan jaringan putting, perbaikan perineum dan lika episiotomi, anjurkan: klien berbaring tengkurap, menggunakan bra penyokong, memulai menyusui pada putting yang tidak nyeri, kolaborasi: berikan: analgesik 30-60 menit sebelum menyusui, sprei anestetik, salep topikal. Dignosa keperawatan yang muncul pada Ny. A: gangguan rasa nyaman nyeri, kurangnya pengetahuan tentang perawatan diri post partum, resiko tinggi terjadinya infeksi. Perencanaan yang dilakukan untuk mengatasi nyeri yaitu: berikan kompres es pada perineum pada 24 jam pertama, anjurkan duduk dengan otot gluteal terkontraksi serta dengan modifikasi yaitu kaji ulang sekala nyeri, lanjutkan therapi sesuai advis dokter dan pelaksanaanya sesuai dengan intervensi. Selama lima hari melakukan asuhan keperawatan pada Ny. A semua masalah teratasi. Kesimpulan: asuhan keperawatan pada klien partus maturus dengan episiotomi, perlu dilakukan secara komprehensif, meliputi aspek biologis, psikologis, sosial dan spiritual, dengan menggunakan proses keperawatan mulai dari pengkajian sampai evaluasi. Rekomendasi penulis ditujukan untuk RSUD Majalaya: agar meningkatkan sarana dan prasarana dengan menambah jumlah alat-alat pemeriksaan fisik seperti tensimeter, refleks hamer dan alat penimbang berat badan.

Daftar Pustaka : 15 buah (1995 – 2010)

Contoh KTI Asuhan keperawatan pada klien dengan partus maturus dengan episiotomi dapat di download pada link di bawah ini:


DOWNLOAD

1 komentar:

www.indones.co.cc mengatakan...

eh mas, saya follow blog anda.. mohon follow balik yah... xixixixi :D

Posting Komentar