Rabu, 15 September 2010

Askep Pada Pasien Post Hernioraphy Atas Indikasi Hernia Incarserata

Karya tulis ini dibuat dengan latarbelakang masih tingginya jumlah penderita post Hernioraphy dengan jumlah 200 kasus atau 80,6% dari kasus Hernia yang ada di Rumah Sakit Umum Sumedang. Tujuan penyusunan Karya Tulis ini untuk memperoleh gambaran secara nyata dalam melaksanakan asuhan keperawatan secara komprehensip meliputi bio, psiko, sosial dan spiritual, melalui proses keperawatan yang terdiri dari pengkajian, diagnosa, perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi.
Masalah keperawatan yang mungkin muncul pada klien pasca hernioraphy menurut teori yaitu pola nafas tidak efektif, resiko tinggi volume cairan, gangguan rasa nyaman nyeri, gangguan integritas kulit, gangguan mobilitas fisik, kurangnya perawatan diri, kurang pengetahuan tentang kondisi prognosis dan pengobatan.
Setelah dilakukan asuhan keperawatan pada klien Tn. A selama lima hari didapatkan masalah yaitu gangguan rasa nyaman nyeri, gangguan oksigenisasi; ventilasi O2, gangguan keseimbangan cairan; kurang dari kebutuhan, gangguan integritas kulit, gangguan pemenuhan ADL personal higiene, resiko gangguan pemenuhan nutrisi, resiko kegagalan perawatan dirumah. Setelah dilakukan asuhan keperawatan selama lima hari dari tujuh masalah keperawatan yang muncul pada Tn. A, enam masalah teratasi dan satu masalah belum teratasi yaitu gangguan integritas kulit dikarenakan untuk kesembuhan luka operasi memang memerlukan waktu yang lama untuk bisa sembuh sampai kering.
Untuk mendapatkan hasil yang optimal diperlukan adanya upaya peningkatan kualitas keperawatan sarana dan prasarana yang menunjang terhadap pelaksanaan keperawatan dan kerjasama yang komprehensip dari perawat, tim kesehatan lain dan keluarga sehingga dapat memberikan asuhan keperawatan pada Tn.A dengan optimal.

Daftar Pustaka: 7 buah (1995 – 2001)
Contoh KTI pada kasus Hernia Incarserata dapat di download pada link di bawah ini:

DOWNLOAD
Jumat, 27 Agustus 2010

Askep Pada Pasien Partus Maturus Dengan Eisiotomi

Karya tulis ini dilatarbelakangi oleh tingginya angka kematian ibu di Jawa Barat pada tahun 2007 mencapai 334 kematian per 100.000 kelahiran, angka kematian bayi mencapai 20 jiwa/1000 kelahiran dan tingginya angka kejadian Partus Maturus Spontan Dengan Episiotomi di RSUD Majalaya periode bulan Januari – Oktober 2009 yang menempati urutan kedua yaitu 221 orang (34,60%) serta dampak pada KDM yaitu: perdarahan, konstipasi, nyeri saat BAK karena trauma kandung kemih serta masalah keperawatan yaitu: gangguan rasa nyaman nyeri, resiko tinggi perdarahan berlebihan, resiko tinggi infeksi, resiko tinggi ketidakefektifan menyusui, resiko tinggi terjadinya konstipasi, kurang pengetahuan tentang perawatan diri, resiko tinggi retensio urine, dan resiko tinggi terlambatnya involusi. Tujuan penulisan dapat melakukan pengkajian sampai dengan evaluasi serta menganalisa kesenjangan teori dengan kenyataan pada kasus Ny. A. Teknik pengumpulan data berupa: wawancara, observasi, pemeriksaan fisik, studi dokumentasi dan kepustakaan. Sistematika penulisan dengan empat bab. Post partum adalah jangka waktu 6 minggu yang mulai setelah kelahiran bayi sampai pemulihan kembali oragan-organ reproduksi seperti sebelum kehamilan. Episiotomi adalah insisi perineum yang dimulai dari cincin vulva ke bawah, menghindari anus dan muskulus spingter serta memotong fasia pervis, muskulus konstrikter vagina, muskulus transversus perinei. Diagnosa keperawatan yang mungkin muncul pada ibu Post Partum Maturus Spontan: gangguan rasa nyaman nyeri, resiko tinggi ketidakefektipan menyusui, resiko tinggi cedera, resiko tinggi infeksi, perubahan eliminasi urine, resiko tinggi kekurangan volume cairan, resiko tinggi kelebihan volume cairan, konstipasi, resiko tinggi perubahan peran menjadi orang tua, resiko tinggi koping individu tidak efektif, gangguan pola tidur, kurang pengetahuan tentang perawatan diri dan perawatan bayi. Perencanaan yang dapat dilakukan untuk mengatasi nyeri: tentukan lokasi dan sifat ketidaknyamanan, berikan kompres panas lembab, inspeksi: hemoroid pada perineum, payudara dan jaringan putting, perbaikan perineum dan lika episiotomi, anjurkan: klien berbaring tengkurap, menggunakan bra penyokong, memulai menyusui pada putting yang tidak nyeri, kolaborasi: berikan: analgesik 30-60 menit sebelum menyusui, sprei anestetik, salep topikal. Dignosa keperawatan yang muncul pada Ny. A: gangguan rasa nyaman nyeri, kurangnya pengetahuan tentang perawatan diri post partum, resiko tinggi terjadinya infeksi. Perencanaan yang dilakukan untuk mengatasi nyeri yaitu: berikan kompres es pada perineum pada 24 jam pertama, anjurkan duduk dengan otot gluteal terkontraksi serta dengan modifikasi yaitu kaji ulang sekala nyeri, lanjutkan therapi sesuai advis dokter dan pelaksanaanya sesuai dengan intervensi. Selama lima hari melakukan asuhan keperawatan pada Ny. A semua masalah teratasi. Kesimpulan: asuhan keperawatan pada klien partus maturus dengan episiotomi, perlu dilakukan secara komprehensif, meliputi aspek biologis, psikologis, sosial dan spiritual, dengan menggunakan proses keperawatan mulai dari pengkajian sampai evaluasi. Rekomendasi penulis ditujukan untuk RSUD Majalaya: agar meningkatkan sarana dan prasarana dengan menambah jumlah alat-alat pemeriksaan fisik seperti tensimeter, refleks hamer dan alat penimbang berat badan.

Daftar Pustaka : 15 buah (1995 – 2010)

Contoh KTI Asuhan keperawatan pada klien dengan partus maturus dengan episiotomi dapat di download pada link di bawah ini:


DOWNLOAD

Sabtu, 21 Agustus 2010

Askep Pada Pasien Post Sectio Caesarea Atas Indikasi Gagal Drip

Karya tulis ini dilatarbelakangi oleh tingginya angka kematian ibu di daerah Majalaya 28 jiwa per 30.239 jiwa (0,09%), bayi 28 jiwa dari 18.592, dan tingginya angka kejadian persalinan sectio caesarea di RSUD Majalaya periode bulan Januari – Oktober 2009 yang menempati urutan pertama dengan jumlah 243 (38,02%). kasus persalinan, serta dampak yang ditimbulkan bila klien post sectio caesarea tidak mendapatkan penanganan yang optimal. Adapun teknik pengumpulan data yang penulis gunakan adalah: wawancara, observasi, pemeriksaan fisik, studi dokumentasi dan kepustakaan. Post partum adalah waktu penyembuhan dan perubahan, waktu kembali pada keadaan tidak hamil dan penyesuaian terhadap penambahan keluarga baru. Sectio caesarea adalah suatu tindakan untuk melahirkan bayi dengan berat diatas 5000 gr, melalui sayatan pada dinding uterus yang masih utuh. Induksi persalinan adalah penggunaan stimulasi fisik atau kimia untuk mempercepat intensitas kontraksi uterus. Diagnosa keperawatan yang mungkin muncul pada klien post sectio secara teori adalah: perubahan proses keluarga, gangguan rasa nyaman nyeri, gangguan rasa aman cemas, harga diri rendah, resiko tinggi terhadap cedera, resiko tinggi terhadap infeksi, konstipasi, kurang pengetahuan mengenai perubahan fisiologis, perubahan eliminasi urine dan kurang perawatan diri. Hasil pengkajian pada Ny. K adalah klien mengeluh nyeri pada luka operasi sectio caesarea, nyeri bertambah bila banyak beraktivitas, terdapat luka operasi sectio caesarea ± 10 cm, ekspresi wajah klien tampak meringis, skala nyeri 3 (0 – 5), T:110/70 mmHg, N: 84 x/menit, R: 20 x/menit, klien mengatakan sering terjaga, klien sering terbangun saat tidur malam hari, mata klien kemerahan, klien tampak lemah, jam tidur ± 5 jam/ hari, klien sering bertanya tentang KB, klien tampak bingung bila ditanya tentang KB, klien sering bertanya tentang cara perawatan luka di rumah, leukosit 7.800 mm3. Hasil pemeriksaan fisik pada bayi tidak ada kelainan, pontanel belum menutup, tanda-tanda vital normal, refleks- refleks normal, umbilikus sudah kering. Dignosa keperawatan yang muncul pada Ny. K adalah: gangguan rasa nyaman nyeri, gangguan pola istirahat tidur, kurangnya pengetahuan tentang alat kontrasepsi, dan resiko tinggi terjadinya infeksi. Perencanaan yang dilakukan untuk mengatasi masalah keperawatan pada Ny. L penulis mengacu kepada konsep teori, yang disesuaikan dengan kondisi klien dan sarana serta prasarana pendukung yang ada di lapangan praktek, yang secara umum ditujukan untuk mengatasi masalah nyeri, ukur TPRS atur posisi klien senyaman mungkin menurut klien, ajarkan teknik relaksasi nafas dalam, lakukan perawatan luka dengan memperhatikan teknik aseptik dan antiseptik, lanjutkan pemberian antibiotik dan analgetik; Cefadroksil 2x500 mg dan Asam mefenamat 3x500 mg. Setelah dilakukan asuhan keperawatan selama 5 hari, empat masalah pada Ny. K dapat teratasi seluruhnya, rekomendasi penulis setelah melakukan asuhan keperawatan adalah agar lebih diperbanyak lagi sumber perpustakaan terutama buku-buku tentang keperawatan maternitas dan menambah persediaan alat di lapangan praktek, khususnya untuk keperluan pengkajian fisik dan tindakan keperawatan.

Daftar Pustaka : 14 buah (1995 – 2009)

download
Kamis, 19 Agustus 2010

Askep Pada Pasien Post Sectio Caesarea Atas Indikasi Letak Lintang

Karya tulis ini dilatarbelakangi oleh tingginya angka kematian ibu dan bayi dan tingginya angka kejadian persalinan sectio caesarea di RSUD Majalaya periode bulan Januari – Oktober 2009 yang menempati urutan pertama dengan jumlah 243 orang dari 639 orang (38,02%), dan dampak terhadap KDM yaitu: cemas dan kurang pengetahuan, serta terhadap masalah keperawatan yaitu: perubahan proses keluarga, gangguan rasa nyaman; nyeri, harga diri rendah, resiko tinggi cedera, resiko tinggi infeksi, konstipasi, kurang pengetahuan tentang perubahan fisiologis, perubahan eliminasi urine, dan kurang perawatan diri. Tujuan penulisan adalah: Penulis mampu melaksanakan dan memperoleh pengalaman dalam memberikan asuhan keperawatan secara komprehensif dengan pendekatan proses keperawatan, metode penulisan deskriptif dengan teknik pengumpulan data adalah: wawancara, observasi, pemeriksaan fisik, studi dokumentasi dan kepustakaan. Sectio caesarea adalah pembedahan untuk melahirkan janin dengan membuka dinding perut dan dinding uterus. Salah satu indikasi sectio caesarea adalah letak lintang. Letak lintang ialah keadaan dimana janin melintang di dalam uterus dengan kepala pada sisi yang satu, sedangkan bokong berada pada sisi yang lain. Diagnosa keperawatan pada klien post sectio caesarea secara teori adalah; perubahan proses keluarga, gangguan rasa nyaman nyeri, gangguan rasa aman cemas, harga diri rendah, resiko tinggi terhadap cedera, resiko tinggi terhadap infeksi, konstipasi, kurang pengetahuan mengenai perubahan fisiologis, perubahan eliminasi urine dan kurang perawatan diri. Perencanaan yang dapat dilakukan untuk mengatasi nyeri: tentukan karakteristik dan lokasi ketidaknyamanan, berikan: informasi dan petunjuk antisipasi penyebab ketidaknyamanan, menyusui, berikan: kompres es pada aksila, analgesik setiap 3-4 jam, bromokriptin mesilat. Evaluasi: tekanan darah, dan nadi, nyeri tekan uterus, haemoroid pada perineum, sakit kepala, kandung kemih, penggunaan analgesia, jaringan payudara. Ubah posisi klien, kurangi rangsangan yang berbahaya, lakukan latihan nafas dalam, anjurkan: ambulasi dini, tirah baring, menggunakan bra penyokong, klien mulai memberikan makan dari puting yang tidak nyeri. Dignosa keperawatan pada Ny. L adalah: gangguan rasa nyaman; nyeri, resiko tinggi infeksi, ganguan rasa aman; cemas, kurang perawatan diri. Perencanaan yang dilakukan untuk mengatasi masalah gangguan rasa nyaman nyeri sesuai dengan teori, dan yang dimodifikasi yaitu: lanjutkan pemberian antibiotik, berikan penkes tentang perawatan luka post sectio caesarea. Implementasi pada Ny. L adalah: menjelasakan pada klien bahwa rasa nyeri pada luka merupakan hal yang wajar, dan mengajarkan dan menganjurkan klien untuk melakukan teknik relaksasi nafas dalam, mengukur tanda-tanda vital, serta megoperkan jadwal pemberian obat. Selama lima hari melakukan asuhan keperawatan pada Ny. L semua masalah teratasi. Kesimpulan: pada tahap pengkajian ditemukan 4 masalah pada Ny. L yaitu: nyeri, resiko tinggi infeksi, cemas dan kurang perawatan diri, perencanaan disusun berdasarkan teori dan modifikasi, implementasi dilakukan sesuai perencanaan dan evaluasi mengacu kepada kriteria hasil tujuan khusus. Rekomendasi: setelah melakukan asuhan keperawatan untuk RSUD Majalaya; agar meningkatkan jumlah alat-alat pemeriksaan fisik.

Daftar Pustaka : 15 buah (1995 – 2010)


Contoh KTI maternitas; asuhan keperawatan pada pasien post sectio caesarea atas indikasi letak lintang, dapat didownload pada link di bawah ini:


download

Selasa, 17 Agustus 2010

Askep Pada Pasien PSP: Halusinasi Lihat Akibat Skizofrenia Paranoid

Karya tulis ini dibuat dengan dilatarbelakangi oleh banyaknya kasus gangguan jiwa khususnya skizofrenia paranoid di RSJ Cimahi Bandung. Dari pencatatan dan pelaporan unit rawat inap selama satu tahun terahir dari bulan Januari – Desember 2006, kasus Skizofrenia paranoid berjumlah 268 orang (29,2%) merupakan kedua terbesar setelah Skizofrenia Residual. Skizofrenia Paranoid itu biasanya mengalami perubahan sensori persepsi: halusinasi lihat. Karya tulis ini dibuat dengan tujuan agar penulis memperoleh gambaran dalam melaksanakan asuhan keperawatan secara komprehensif yang meliputi aspek bio-psiko-sosial-spiritual klien berdasarkan ilmu dan kiat keperawatan dengan menggunakan proses keperawatan yang meliputi pengkajian, perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi. Metode yang digunakan adalah metode deskriptif yang berbentuk studi kasus. Masalah-masalah keperawatan pada perubahan sensori persepsi: halusinasi lihat akibat Skizofrenia paranoid secara teori adalah: perubahan sensori persepsi: halusinasi, perubahan proses pikir: waham, isolasi sosial: menarik diri, prilaku kekerasan, Resiko mencederai diri, orang lain dan lingkungan, Gangguan konsep diri: harga diri rendah, Kerusakan interaksi sosial: menarik diri sedangkan masalah keperawatan yang ditemukan Pada kasus penulis adalah: perubahan sensori persepsi: Halusinasi lihat, Resiko tinggi Mencederai diri sendiri, orang lain dan lingkungan, kerusakan interaksi sosial menarik diri, Gangguan konsep diri: harga diri rendah, Defisit perawatan diri, Regimen terapeutik inefektif, kerusakan komunikasi verbal. Dari masalah keperawatan tersebut terdapat sedikit perbedaan antara teori dan praktek di lapangan. Setelah dilakukan keperawatan. Selama 5 hari secara bertahap masalah tersebut sebagian besar dapat teratasi. dan untuk mencegah kekambuhan klien dengan bekerjasama mendiskusikan bersama perawat ruangan, tim kesehatan dalam memberikan asuhan keperawatan kepada klien secara optimal.

Selengkapnya silahkan download pada link di bawah ini:

download
Jumat, 13 Agustus 2010

Askep Pada Klien Gangguan Persepsi Sensorik: Halusinasi Dengar Akibat Skizofrenia Paranoid

Karya tulis ini dilatarbelakangi oleh tingginya penderita skizofrenia paranoid, menduduki urutan kedua dari sepuluh besar penyakit di RSJ Kota Bandung, yaitu 68 kasus dari jumlah total 429 kasus gangguan jiwa atau sekitar 15,85%, dan sering munculnya diagnosa keperawatan perubahan sensori persepsi: halusinasi dengar, menduduki urutan pertama pada lima besar diagnosa keperawatan RSJ Bandung, yaitu sebanyak 430 dari 1.362 atau sekitar 31,57% serta pentingnya penanganan penyakit tersebut. Tujuan penyusunan karya tulis ini adalah untuk memberikan gambaran tentang pelaksanaan asuhan keperawatan jiwa pada klien dengan gangguan sensori persepsi: halusinasi dengar, dengan menggunakan pendekatan proses keperawatan. Metode yang digunakan adalah deskriptif berupa studi kasus. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara, observasi, pemeriksaan fisik, studi dokumentasi dan kepustakaan. Masalah yang ditemukan pada kasus keluarga Nn. C adalah: gangguan persepsi sensori: halusinasi dengar, gangguan interaksi sosial; menarik diri dan resiko tinggi mencederai diri sendiri, orang lain dan lingkungan. Tindakan keperawatan, dilakukan pada Nn. C adalah dengan menjalin hubungan terapeutik dan melakukan komunikasi terapeutik. Kesimpulan penulis setelah memberikan asuhan keperawatan pada Nn. C perlu adanya keahlian dalam hal pengkajian agar data yang didaptkan menjadi akurat dan perlu adanya kerjasama dengan keluarga klien, dan tim kesehatan lain agar proses asuhan keperawatan dapat dilakukan secara efektif, efisien dan optimal. Rekomendasi yang penulis ajukan untuk instansi rumah sakit adalah perlunya ditingkatkan keterlibatan keluarga dalam memberikan asuhan keperawatan, untuk institusi pendidikan adalah meningkatkan jumlah referensi yang berhubungan dengan perawatan gangguan psikiatri yang berbahasa Indonesia dan untuk mahasiswa yang akan melakukan asuhan keperawatan sebelumnya agar mempersiapkan mental yang pantang menyerah dan membekali diri dengan materi-materi khususnya yang berhubungan dengan gangguan persepsi sensori; halusinasi dengar.


Daftar Pustaka : 9 buah (1998 – 2006)

Contoh KTI gangguan Gangguan Sensori Persepsi: Halusinasi Dengar Akibat Skizofrenia Paranoid, dapat anda download pada link di bawah ini:


download

Kamis, 12 Agustus 2010

Askep Pada Klien Perubahan Konsep Diri; HDR Akibat Skizofrenia Hebefrenik

Karya tulis ini dilatarbelakangi oleh tingginya angka kejadian skizofrenia hebefrenik dan jumlah diagnosa keperawatan gangguan konsep diri; harga diri rendah di Rumah Sakit Jiwa Kota Bandung pada periode Januari-Juni 2009. Jumlah kasus skizofrenia hebefrenik menduduki urutan pertama dari 10 besar penyakit di RSJ Bandung yaitu 195 orang dari jumlah total 429 orang atau sekitar 45,45%, dan jumlah diagnosa keperawatan gangguan konsep diri; harga diri rendah menduduki urutan kelima dari lima besar diagnosa keperawatan di RSJ Kota Bandung, yaitu berjumlah 126 dari jumlah total 1.362 diagnosa keperawatan atau sekitar 9,25%. Tujuan penyusunan karya tulis ini untuk memperoleh pengalaman secara nyata dengan mengaplikasikan teori yang telah diperoleh dalam melaksanakan asuhan keperawatan pada klien dengan gangguan konsep diri; harga diri rendah secara komprehensif, melalui aspek biologi, psikologi sosial dan spiritual dengan pendekatan proses keperawatan yang menggunakan metode studi kasus.

Adapun teknik pengumpulan data yang penulis gunakan adalah: wawancara, observasi, pemeriksaan fisik, studi dokumentasi dan kepustakaan. Diagnosa keperawatan pada klien gangguan konsep diri; harga diri rendah akibat skizofrenia hebefrenik secara teori adalah; resiko tinggi melakukan kekerasan diarahkan pada diri sendiri, orang lain dan lingkungan, isolasi sosial, koping individu tidak efektif, gangguan persepsi sensori, halusinasi, perubahan proses pikir, kerusakan komunikasi verbal, kurang perawatan diri; personal hygiene, dan gangguan pola tidur. Sedangkan dignosa keperawatan yang muncul pada Ny. R adalah gangguan konsep dri harga diri rendah. Setelah dilakukan asuhan keperawatan semua masalah dapat teratasi.

Hambatan yang ditemukan selama melakukan asuhan keperawatan adalah belum pernahnya keluarga klien datang ke rumah sakit. Untuk mengatasi hambatan di atas penulis berkerjasama dengan perawat ruangan untuk melaksanakan asuhan kerperawatan secara berkesinambungan. Rekomendasi ditujukan kepada pihak rumah sakit, institusi pendidikan dan perawat.

Daftar Pustaka : 6 buah (1998 – 2000)


Contoh KTI perubahan konsep diri: HDR akibat skizofrenia hebefrenik dapat di download pada link di bawah ini:


download